Beranda > Pandangan > Pariwisata Yang Berkelanjutan Dan Berwawasan Kearifan Lokal

Pariwisata Yang Berkelanjutan Dan Berwawasan Kearifan Lokal


Pengantar

Berdasarkan pengertian dari World Tourism Organization, pariwisata adalah perjalanan untuk rekreasi, liburan atau bisnis. Organisasi Pariwisata Dunia mendefinisikan wisatawan sebagai orang yang “perjalanan dan tinggal di tempat-tempat di luar lingkungan yang biasa mereka selama lebih dari dua puluh empat (24) jam dan tidak lebih dari satu tahun berturut-turut untuk bersantai , bisnis dan tujuan lainnya yang tidak terkait dengan pelaksanaan kegiatan yang dibayar dari dalam tempat yang dikunjungi.

Turisme merupakan industri terbesar di dunia, dan merupakan industri yang bergerak dalam bidang jasa. Jasa-jasa yang terkait dengan industri pariwisata adalah transportasi, hotel dan restoran, bank, asuransi, keamanan, dan jasa-jasa yang terkait lainnya.

Pariwisata telah menjadi aktivitas rekreasi global. Pada tahun 2008, kedatangan wisatawan internasional 922 juta, meningkat 1,9% dibandingkan tahun 2007. penerimaan pariwisata internasional tumbuh menjadi 944 juta dolar AS (euro 642 juta) pada tahun 2008, mencerminkan peningkatan secara riil sebesar 1,8%[1].

Adapun pengertian pariwisata yang berkelanjutan adalah industri pariwisata yang berkomitmen untuk membuat dampak yang rendah pada lingkungan dan budaya lokal, sambil membantu menciptakan lapangan kerja di masa depan bagi masyarakat lokal. Tujuan dari pengembangan pariwisata berkelanjutan adalah untuk membawa pengalaman positif bagi masyarakat setempat, perusahaan pariwisata dan wisatawan sendiri.

Para ekonom global memperkirakan pertumbuhan pariwisata internasional, berkisar antara tiga dan enam persen per tahun, tergantung pada lokasinya. Sebagai salah satu industri terbesar dan yang berkembang cepat di dunia, pertumbuhan ini (pariwisata) akan memberikan dampak yang besar pada habitat biologis yang beragam dan budaya masyarakat asli, yang sering digunakan untuk mendukung pariwisata massal.

Pariwisata Yang Berkelanjutan

Pada tahun 1992, dalam United Nation Conference on Environment and Developmentthe Earth Summit– di Rio de Janeiro, dirumuskan program tindak yang menyeluruh hingga abad ke-21 yang disebut Agenda 21, yang kemudian diadopsi oleh 182 negara peserta konferensi termasuk Indonesia.

Agenda 21 merupakan blueprint untuk menjamin masa depan yang berkelanjutan dari planet bumi dan merupakan dokumen yang mendapatkan kesepakatan internasional yang sangat luas, menyiratkan konsensus dunia dan komitmen politik di tingkat yang paling tinggi.

Dalam tataran kepariwisataan internasional, pertemuan Rio ditindaklanjuti dengan Konferensi Dunia tentang Pariwisata Berkelanjutan pada tahun 1995 yang merekomendasikan pemerintah negara dan daerah untuk segera menyusun rencana tindak pembangunan berkelanjutan untuk pariwisata serta merumuskan dan mempromosikan serta mengusulkan Piagam Pariwisata Berkelanjutan.

Prinsip-prinsip dan sasaran-sasaran dari piagam tersebut adalah bahwa:

  1. Pembangunan pariwisata harus berdasarkan kriteria keberlanjutan, dapat didukung secara ekologis dalam waktu yang lama, layak secara ekonomi, adil secara etika dan social bagi masyarakat setempat.
  2. Pariwisata harus berkontribusi kepada pembangunan berkelanjutan dan diintegrasikan dengan lingkungan alam, budaya dan manusia.
  3. Pemerintah dan otoritas yang kompeten, dengan partisipasi lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat setempat harus mengambil tindakan untuk mengintegrasikan perencanaan pariwisata sebagai kontribusi kepada pembangunan berkelanjutan.
  4. Pemerintah dan organisasi multilateral harus memprioritaskan dan memperkuat bantuan, langsung atau tidak langsung, kepada projek-projek pariwisata yang berkontribusi kepada perbaikan kualitas lingkungan.
  5. Ruang-ruang dengan lingkungan dan budaya yang rentan saat ini maupun di masa depan harus diberi prioritas khusus dalam hal kerja sama teknis dan bantuan keuangan untuk pembangunan pariwisata berkelanjutan.
  6. Promosi/dukungan terhadap berbagai bentuk alternatif pariwisata yang sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.
  7. Pemerintah harus mendukung dan berpartisipasi dalam penciptaan jaringan untuk penelitian, diseminasi informasi dan transfer pengetahuan tentang pariwisata dan teknologi pariwisata berkelanjutan.
  8. Penetapan kebijakan pariwisata berkelanjutan memerlukan dukungan dan sistem pengelolaan pariwisata yang ramah lingkungan, studi kelayakan untuk transformasi sektor, dan pelaksanaan berbagai proyek percontohan dan pengembangan program kerjasama internasional[2].

Contoh Produk Sustainable Tourism

Skyrail Rainforest Cableway

Salah satu produk pariwisata yang diciptakan sesuai dengan prinsip pariwisata yang berkelanjutan adalah Skyrail Rainforest Cableway, yaitu gondola (kereta gantung) yang  menghubungkan pinggiran kota Cairns Caravonica di atas Taman Nasional Barron Gorge ke Kuranda, Queensland. Membentang sepanjang 7,5 km di atas Taman Nasional Barron Gorge, Skyrail menawarkan pengalaman perjalanan dengan gondola  di atas hutan tropis. Di sini, wisatawan turun dari gondola dan berjalan kaki menikmati informasi-informasi yang disediakan dan dipandu oleh guide. Skyrail dibuka untuk umum pada tahun 1995.

Konsep asli Skyrail disusun pada tahun 1987 dan diikuti oleh tujuh tahun studi kelayakan, pra-konstruksi studi dampak lingkungan serta konsultasi dan persetujuan dengan pemerintah , negara bagian, pemerintah federal, dan masyarakat setempat. Konstruksi Skyrail diaplikasikan dari teknik konstruksi yang meminimalkan dampak terhadap hutan di Taman Nasional Barron Gorge yang terdaftar di World Heritage.

Brand Image Tourism

Four Seasons Resorts Bali at Sayan

Pariwisata yang berkelanjutan dan berwawasan kearifan lokal membutuhkan manajemen wisata yang dapat menselaraskan antara tujuan dan prinsip-prinsip dari sustainable tourism. Untuk mewujudkannya, perlu adanya peningkatan branded image dari produk pariwisata yang ditawarkan. Wisatawan tidak hanya  membeli produk wisata tersebut, tetapi juga special experience and prestise.

Peningkatan brand image pariwisata dilakukan dengan cara mengenalkan merk, iklan, dan promosi yang bagus. Dalam pariwisata yang berwawasan kearifan lokal, brand ini diciptakan untuk mengenalkan identitas daerah tujuan wisata kepada para wisatawan.

Brand image umumnya ialah kata-kata pertama yang muncul ketika merek tertentu disebutkan. Contohnya, ketika disebutkan kata: Bali, maka brand image yang timbul adalah Pulau Dewata atau Paradise Island.

Four Seasons Bali at Sayan, sebuah resort yang mewah di Bali, menggunakan brand image Bali sebagai Pulau Dewata, yang indah dengan segala kekayaan budayanya. Manajemen Four Seasons Bali at Sayan pun mengemas resortnya menjadi resort yang dibangun dengan konsep tradisional yang menyatu dengan alam Bali yang indah ditambah dengan promosi yang menarik para wisatawan.

Penutup

Indonesia yang dianugerahi oleh Tuhan dengan keindahan alamnya yang melimpah serta keragaman budayanya yang kaya harus mampu mengambil peluang dari industri pariwisata yang berkelanjutan dan berwawasan kearifan lokal. Industri pariwisata dapat dijadikan sebagai media untuk menjaga anugerah Tuhan tersebut.

Kekayaan alam berupa hutan, laut, sungai, danau, flora dan fauna, keanekaragaman budaya, dan lain-lain dapat menjadi modal bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Dengan menggunakan prinsip-prinsip sustainable tourism yang dijalankan dengan benar, bukan hal yang mustahil Indonesia menjadi daerah tujuan utama wisata nomor satu di dunia.

Kenyataan di lapangan masih menunjukkan sebaliknya. Banyak hutan yang sudah rusak, sungai dan danau yang tercemar, serta nilai-nilai budaya yang sudah luntur. Hal ini harus segera dibenahi agar hal-hal tersebut tidak menjadi penghambat serta dapat menjadi modal bagi industri pariwisata di Indonesia.

Untuk mewujudkan Indonesia sebagai daerah tujuan wisata utama di dunia, terutama dalam hal pariwisata yang berkelanjutan dan berwawasan kearifan lokal, masih banyak yang perlu dibenahi. Contoh, analisis mengenai dampak terhadap lingkungan di tempat-tempat wisata. Sebagaimana pembangunan Skyrail di Australia yang diperhitungkan agar dampak negatif yang ditimbulkan kecil, pembangunan-pembangunan tempat wisata di Indonesia pun harus dilakukan analisis yang mendalam agar meminimalisasi dampak negatif yang ditimbulkan. Selama ini, banyak tempat-tempat wisata yang “asal bangun” sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Penguatan brand image pariwisata juga perlu untuk menarik wisatawan agar datang berkunjung. Selama ini, Bali memang masih menjadi primadona destinasi wisata Indonesia di mata internasional, tetapi Indonesia masih memiliki ribuan tempat menarik lainnya yang belum memiliki brand yang kuat. Oleh karena itu, promosi yang baik akan sangat mendukung pariwisata Indonesia.

Ketertinggalan Indonesia dalam industri manufaktur dan teknologi dapat dikejar dengan memajukan industri pariwisata Indonesia. Pariwisata yang berkelanjutan dan berwawasan lokal diharapkan dapat menjadi andalan bagi perekonomian Indonesia selanjutnya dan menjadi salah satu cara untuk membuat anugerah Tuhan kepada Indonesia tetap indah dan abadi selamanya.


 

[1] UNWTO World Tourism Barometer, Volume 7 No.2 June 2009

[2] Dr. Rochajat Harun, dalam tulisannya Konsep Pariwisata Berkelanjutan, yang dimuat di Koran Online kabarindonesia.com, 8 November 2008.

Iklan
Kategori:Pandangan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: