Beranda > Cerita > Wekasan, It’s Wednesday Thing!

Wekasan, It’s Wednesday Thing!


Ada yg tahu perihal Rebo Wekasan? Rebo Wekasan, atau Rabu Pungkasan, atau Rebo Kasan secara sederhana dapat diartikan dengan hari Rabu terakhir pada bulan Safar (bulan kedua dalam sistem penanggalan Islam atau kalau di Jawa disebut dengan Sapar). Menurut tradisi di beberapa daerah (di Jawa, Sunda, Banten, dan beberapa daerah lainnya), hari Rebo Wekasan merupakan hari yang tidak dianjurkan untuk melakukan perjalanan jauh karena dipercayai akan membawa nasib buruk. Pada hari itu, dipercayai bila Tuhan menurunkan lebih banyak nasib buruk dibandingkan dengan nasib baik. Oleh karena itu, ada yang menyikapi hari Rebo Wekasan dengan memperbanyak ibadah dan berdoa, mandi menyucikan diri serta tidak keluar rumah sepanjang hari. Tapi ada juga yang menyikapi hari itu dengan melakukan kegiatan seperti biasa.

Berbicara tentang hari Rebo Wekasan, saya memiliki pengalaman menarik yang berkaitan dengan hari itu.

Tepat pada hari Rebo Wekasan tahun lalu (1431 Hijriyah), saya berniat untuk pergi ke pusat kota Bekasi untuk membeli tiket pesawat ke Jogja. Ketika saya hendak pamit kepada bapak saya, tiba-tiba beliau melarang saya untuk pergi keluar rumah, apalagi sampai ke kota segala.

Lagi Rebo Wekasan. Mending di rumah saja. Besok saja kalau mau membeli tiketnya” kata bapak saya.

Saya yang tidak mengerti perihal Rebo Wekasan, langsung bertanya kepada bapak saya tentang hal tersebut. Bapak saya pun menjelaskannya secara eksplisit tentang Rebo Wekasan. Beliau pun kembali mengingatkan saya untuk tetap tinggal di rumah dan jangan pergi kemanapun.

Namun, saya ngotot untuk tetap pergi. Bagaimanapun juga saya harus mendapat kepastian tiket pesawat atau setidaknya dapat tiket kereta api ke Jogja. Saya mengacuhkan perintah bapak saya yang menyuruh untuk tetap tinggal di rumah dan pergi tanpa restu beliau.

Hasilnya, saya tidak jadi membeli tiket.

Kok bisa?

Entah kenapa saat itu tiket pesawat sedang melambung tinggi dan akhirnya membuat saya urung untuk membelinya. Untuk tiket kereta api malah lebih parah, sudah ludes terjual alias habis!

Saya pun pulang ke rumah tanpa hasil. Bapak saya yang menunggu di depan rumah sepertinya sudah tau nasib yang menimpa saya.

Bagaimana, nggak dapet kan? Dibilangin juga apa! Dasar anak zaman sekarang, nggak tau tradisi!” sambil senyum-senyum merasa menang.

Seketika saya mengangguk-angguk, berpikir bahwa kepercayaan tentang Rebo Wekasan ternyata benar adanya. Tapi kemudian saya berusaha berpikir positif, dan menanamkan dalam diri saya sendiri bahwa tidak ada yang namanya hari sial. Yang menimpa pada diri saya itu karena saya melawan perintah orangtua, keramat yang ada di dunia.

Semalam sebelum Rebo Wekasan tahun ini (1432 Hijriyah), ibu saya menelpon. Beliau mengingatkan saya untuk tidak pergi jauh. “Lagi Rebo Wekasan….”katanya.

Disclaimer: Masih ada pro-kontra mengenai Rebo Wekasan, oleh karena itu, saya kembalikan kepada Anda mengenai kepercayaan tentang Rebo Wekasan. Tapi yang tidak ada pro kontra ialah: orangtua adalah keramat di dunia. Selalu mintalah restu dari mereka dan jangan sekali-kali melanggar perintahnya!

Iklan
Kategori:Cerita
  1. ics
    02/02/2011 pukul 12:57

    nice script hun

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: