Beranda > Cerita > Ke Bengkulu bagian I

Ke Bengkulu bagian I


Akhirnya saya posting blog lagi,…

Oke, kali ini saya mau nulis cerita perjalanan saya ke negeri Rafflesia Arnoldi, yaitu… Bengkulu.

Bengkulu atau nama klasik daerah ini adalah Bencoolen, merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang terletak di pulau Sumatera. Pada masa lampau, Bengkulu terkenal sebagai daerah penghasil lada dan menjadi bagian dari kekuasaan kolonial Inggris di Hindia. Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Raffles pernah mengunjungi wilayah ini dan bersama-sama dengan Dr Joseph Arnold ia memimpin ekspedisi ke hutan hujan tropis dan menemukan bunga raksasa yang diberi nama Rafflesia arnoldii. Pada perkembangan selanjutnya, wilayah Bengkulu menjadi bagian dari kolonial Belanda setelah ditukar dengan Singapura berdasarkan Traktat London.

Kembali ke topik.

Jadi kondisinya pada Juli 2012 saya mendapat tugas survey instansi dan wilayah dalam rangka penyusunan laporan evaluasi program untuk Kementerian Perencanaan Pembangunan Daerah Tertinggal ke Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Ini bukan modus saya (hehe…) tapi, berkunjung ke tempat eksotik seperti Bengkulu tentu punya kesan berbeda dibandingkan dengan pergi ke tempat yang sudah umum/populer.

Saya berangkat dari Yogyakarta menggunakan pesawat Lion Air menuju Bengkulu (meskipun secara administratif lokasinya di Sumatera Selatan, secara geografis Musi Rawas lebih dekat ke Bengkulu dibandingkan dengan ke Palembang) bersama-sama dengan Mas Danar Wiyoso dan Ukhi Permanasari. Pesawat delay selama 3 jam lalu transit sebentar di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta lanjut ke Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu (perjalanan ini kali pertama saya ke Sumatera dengan pesawat, sebelumnya pernah dengan kapal feri Merak-Bakauheni saat Kuliah Kerja Nyata ke Lampung).

Perjalanan udara dari Jakarta ke Bengkulu memakan waktu selama satu jam.  Mendarat di Bandara Fatmawati Soekarno (dahulu namanya Bandara Padang Kemiling) langsung disambut oleh Pak Zamzami pejabat dinas di Provinsi Bengkulu, tentunya  setelah ritual norak kami foto-foto narsis di bandara. Kami diantar oleh beliau ke Hotel Splash – hotelnya masih baru, masih bau cat – , tempat kami tinggal di Bengkulu. Pilih kamar deluxe dan dapat harga promo sekitar 300 ribuan.

IMG_2590

Narsis bersama Mas Dhanar di Bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu

IMG_2618

Narsis di depan Hotel Splash, Bengkulu

IMG_2591

Kamar Deluxe Hotel Splash

Melepas lelah sementara hingga sore hari, kami langsung diajak untuk putar-putar keliling Bengkulu. Destinasi pertama kami ialah bangunan peninggalan sejarah yaitu Rumah Pengasingan Bung Karno.  Di muka bangunan terhampar taman yang cukup asri dan biasa dipakai oleh muda-mudi Bengkulu untuk berfoto-foto, termasuk foto pre-wedding.

Mengunjungi bangunan klasik ini kita seperti diantar untuk merasakan atmosfer kala Bung Karno diasingkan ke Bengkulu. Terdapat koleksi sepeda onthel, ranjang, serta foto-foto yang mengabadikan suasana yang terjadi kala itu. Yang menarik, ada juga foto-foto yang mendokumentasikan romantisme Sang Proklamator dengan The Fisrt Lady, Ibu Fatmawati.

IMG_2595

IMG_2596

Rumah Pengasingan Bung Karno, Bengkulu

IMG_2597

Sepeda Onthel yang dipakai Bung Karno

IMG_2603

IMG_2604

Selepas mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno, perjalanan dilanjutkan ke pantai-pantai cantik yang ada di Bengkulu. Pantai-pantai yang terkenal di Bengkulu diantaranya adalah Pantai Panjang, Pantai Jakat, dan Pantai Tapak Padri. Pantai Panjang adalah destinasi wisata unggulan yang ditawarkan oleh Provinsi Bengkulu kepada para wisatawan yang datang. Selain panorama yang indah, keistimewaan pantai ini adalah garis pantainya yang panjang yaitu 7 km. Kawasan pantai disulap menjadi kawasan wisata terpadu yang dilengkapi dengan aneka fasilitas pendukung seperti horeka (hotel restoran kafe), tempat parkir, penyewaan sepeda, dan penjualan cinderamata. Meskipun di pantai ini tidak diperkenankan berenang (mungkin karena berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan dengar-dengar dari Pak Zamzami tidak jauh dari bibir pantai ada palung), pada sore hari dan hari libur pantai ini tetap ramai dikunjungi wisatawan.

IMG_2608

Pantai Jakat, Bengkulu

IMG_2607

Sunset di Pantai Panjang

Usai menikmati sightseeing di Pantai Panjang, tujuan kami selanjutnya adalah menikmati malam di Pantai Tapak Padri. Pantai yang terletak dekat dengan benteng kolonial Inggris terkuat di Asia Tenggara, Benteng Marlborough, ini pada mulanya merupakan pelabuhan yang digunakan kolonial Inggris di Bengkulu. Lokasinya yang persis di muka benteng memudahkan alur distribusi barang dari pelabuhan ke benteng, selain itu juga terlindungi dari serangan musuh karena corong meriam benteng yang diarahkan ke laut siap memuntahkan amunisinya kepada pihak-pihak yang berusaha merebut pelabuhan. Di Pantai Tapak Padri, kami menikmati malam dengan menikmati sajian jagung bakar sebagai penangkal dinginnya hembusan angin laut Pantai Padri.

Keesokan harinya, saya harus berpisah dengan rekan kerja saya, Mas Dhanar dan Mbak Ukhi untuk melanjutkan perjalanan masing-masing. Saya melanjutkan perjalanan ke Lubuklinggau dan Musi Rawas, Mas Dhanar lanjut ke utara menuju Muko-muko, sedangkan Ukhi lanjut ke Bengkulu Tengah. Dengan menggunakan jasa travel dari Bengkulu Wisata, saya melanjutkan perjalanan darat ke Musi Rawas via Bengkulu – Kepahiang – Curup – Lubuklinggau.

Bersambung….

Iklan
Kategori:Cerita
  1. yeye ye
    01/07/2016 pukul 09:11

    🙂 nice

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: