Beranda > Pandangan > Persib, Persipura dan Persatuan.

Persib, Persipura dan Persatuan.


Tanggal 7 November 2014 merupakan hari yang bersejarah bagi klub sepakbola kesayangan urang Sunda yaitu Persib Bandung. Bagaimana tidak, pada hari itu secara resmi klub ini kembali merasakan manisnya juara Liga Indonesia (kompetisi Liga Super) setelah berjaya mengubur ambisi klub kebanggaan orang Papua yakni Persipura Jayapura untuk mempertahankan gelar tersebut. Ini adalah kali kedua sejak musim 1994/1995 Persib Bandung ditahbiskan menjadi juara Liga Indonesia pertama saat kompetisi perserikatan dan galatama digabung. Artinya, Persib Bandung puasa gelar selama dua dasawarsa kurang satu tahun. Ini menjadi puncak kebanggaan pendukung Persib semusim ini.

Saya tidak akan membahas jalannya pertandingan ataupun lika-liku kedua klub menuju babak akhir kompetisi. Saya juga tidak akan bercerita tentang sejarah kedua klub. Saya hanya akan bercerita tentang keunikan basis pendukung kedua klub tersebut.

Berbicara mengenai pendukung Persib Bandung atau yang lebih dikenal dengan istilah bobotoh, sesungguhnya tidak hanya berbicara sebatas pendukung dari Kota Bandung saja, melainkan juga pendukung dari kota-kota lain yang ada di tatar sunda bahkan dari kota-kota lain dimana ada urang Sunda disana. Persib bukan lagi sekadar klub sepakbola yang berasal dari ibukota Jawa Barat saja tetapi juga sudah menjadi identitas kesundaan bagi urang Sunda itu sendiri. Persib ya Jawa Barat, dan Jawa Barat ya Persib. Dari kota manapun urang Sunda berasal, hampir semuanya mendukung Persib. Bandung hanyalah kandang klub, tapi identitas klub Persib ya tetap Sunda, Jawa Barat.

Setali tiga uang dengan Persib, klub Persipura juga didukung oleh hampir semua masyarakat Papua bukan lagi milik warga kota Jayapura semata. Persipura adalah pemersatu dari semua suku dan lapisan masyarakat yang ada di Papua. Persipura juga menjadi identitas bersama yang  mewakili masyarakat Papua dalam kancah sepakbola (bahkan pergaulan) nasional. Persipura hadir seakan-akan membawa pesan bahwa: Indonesia bukan hanya dari Pulau We sampai Pulau Rote, tetapi dari Kota Sabang sampai Merauke. Papua juga Indonesia.

Dalam tulisan saya kali ini, saya bukan menjalankan divide et impera, tetapi yang mau saya tunjukkan adalah bagaimana sepakbola itu termasuk (tapi tidak terbatas) sisi primodial dari tiap-tiap basis pendukungnya (yang mungkin masih suka dianggap dan berlaku rasis). Sepakbola bukan sekadar menendang bola lalu mencetak gol ke gawang lawan. Bukan, bukan itu saja. Namun lewat sepakbola, sungguh rasa persatuan itu bisa terjadi. Rasa persatuan ini boleh jadi dimulai dari merasa satu kota (geografis), lalu merasa satu budaya dan bahasa, kemudian merasa satu ras, suku atau satu bangsa hingga diejawantahkan menjadi identitas bersama yang diharapkan menjadi juara dan menjadi kebanggaan bagi tiap-tiap pribadi basis pendukung klub.

Urang Sunda bangga dengan Persib. Orang Papua bangga dengan Persipura.

Tetapi…tunggu dulu, sebentar lagi ada gelaran Piala AFF (ASEAN Football Federation) 2014, apakah orang Indonesia (sudah) bangga dengan Timnas Indonesia? Bagaimana dengan anda?

Kalau saya sih…belum.

Iklan
Kategori:Pandangan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: