Beranda > Pandangan > Hari Ayah

Hari Ayah


Saya agak geli juga melihat aneka ciapan ataupun postingan beberapa kawan serta orang lain yang saya tidak kenal mengenai hari ayah yang dirayakan pada tahun ini. Berbondong-bondong semuanya berciap dan memutakhirkan status di media sosial. Intinya satu: “Selamat Hari Ayah!”

Dalam ciapan atau postingan mereka ada yang isinya pengakuan dosa, ada yang isinya ungkapan kebanggaan, ada juga yang dingin, ya…sekadar ucap Selamat Hari Ayah saja. Tapi gak apa-apa, yang penting exist, katanya.

Ayah, gelar yang satu ini memang hanya disandang oleh laki-laki yang sudah memiliki anak, baik itu anak kandung, anak tiri, atau anak angkat. Sosoknya jelas, bahwa seorang ayah ialah seorang yang ingin diakui, ingin ditaati, bahkan ingin menjadi supreme leader setidak-tidaknya dalam rumah tangganya.
Namun konsekuensinya, ayah pun harus menjadi patron bagi istri dan anaknya, menjaga kelangsungan hidup dan mewujudkan visi universal dari setiap rumah tangga, yaitu menjadi rumah tangga bahagia.

Duh, berat nian menjadi ayah. Tidak tanggung-tanggung visi yang diwujudkannya ialah bahagia. Kata sakral yang mudah sekali keluar saat masa-masa bujangan yang kasmaran tetapi ternyata sulit diwujudkan kala surat nikah sudah ditandatangan. Lantas, apatah sehari saja cukup untuk membuat pengakuan dosa atau ungkapan kebanggaan kepada ayah?

Ealah… kok sempit betul ya pikiran saya yang membonsai hari ayah hanyalah momentum untuk mengungkapkan perasaan kepada si bapak? Maklum, saya masih saklek. Tapi, kata teman saya yang minta untuk tak disebutkan namanya, hari ayah itu sebenarnya tamparan buat kita, betapa kita seorang anak menganggap ayah itu benar-benar jagoan yang gak pernah kalah, gak cengeng, jadi gak perlulah mengungkapkan perasaan kepada sang ayah. Padahal kata teman saya itu, ayah juga manusia, punya mata berikut airnya, suka marah tapi gak jarang ketawa, dan suka sok tegar padahal sering juga galau. Jadi, ayah juga harus diperhatikan. Diperingati harinya, supaya kita ingat kondisi ayah ya begitu itu.
Jadi intinya kata teman saya itu hari ayah sebagai pengingat. Sebagai alarm. Supaya kita eling nggak pangling sama sosok ayah. Jangan melulu ibu yang diperhatikan, ayah disalahkan. Seperti kata lagu lama begini:

Indung indung kepala lindung
Hujan di udik di sini mendung
Jangan salahkan ibu mengandung
Salahkan bapak yang punya burung.

Tabik!

Iklan
Kategori:Pandangan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: